Tata Tertib Siswa

PERATURAN SEKOLAH TENTANG PEDOMAN TATA TERTIB PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6 KOTA SERANG

 

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Yang dimaksud dengan tata tertib adalah :

  1. Seperangkat peraturan yang wajib ditaati dan dilaksanakan oleh pelaksana tata tertib dalam hal ini peserta didik SMA NEGERI 6 KOTA SERANG.
  2. Pemantau adalah kepala sekolah, staf wakil kepala sekolah, wali kelas, guru dan karyawan SMA NEGERI 6 KOTA SERANG.
  3. Kewajiban pemantau adalah sebagai pengawas tata tertib dan menindaklanjuti secara konsisten, kontinyu dan bertanggung jawab.

Pasal 2

Yang dimaksud ketertiban adalah suatu kondisi dinamis yang menimbulkan keserasian keselarasan dan keseimbangan dalam tata hidup bersama sebagai makhluk Tuhan. Dalam kehidupan sekolah , kondisi itu mencerminkan keteraturan dalam pergaulan , dalam penggunaan dan pemeliharaan sarana / prasarana , penggunaan waktu , pengelolaan administrasi dan dalam mengatur hubungan dengan masyarakat dan lingkungannya.

Ketertiban sekolah dituangkan dalam Pedoman Tata Tertib Peserta Didik , dan disusun secara Operasional untuk mengatur tingkah laku dan sikap hidup peserta didik Dalam Tata Tertib Peserta didik memuat :

  1. Hal-hal yang diharuskan atau diwajibkan
  2. Hal-hal yang dianjurkan
  3. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan atau larangan
  4. Sanksi-sanksi / hukuman bagi pelanggar.

    

BAB  II
DASAR

Pasal 3

Keputusan Dirjen Dikdasmen Nomor : 100C/Kep/D/1991 dan Petunjuk Pelaksanaan dari Hasil Rapat Dewan Guru SMA NEGERI 6 KOTA SERANG

 

BAB III
TUJUAN

Pasal 4


Mengatur kehidupan peserta didik sehari-hari di sekolah sesuai tujuan Pendidikan SMA NEGERI 6 KOTA SERANG, yaitu ;

  1. Menjaga proses belajar mengajar agar tertib lancar dan tenang.
  2. Mengatur sikap dan tingkah laku peserta didik sesuai Wawasan Wiyata Mandala dan Janji peserta didik
  3. Menggerakkan jiwa persatuan dan kesatuan peserta didik SMA NEGERI 6 KOTA SERANG
  4. Meningkatkan pembinaan peserta didik dalam rangka membentuk manusia yang berkarakter dan berkepribadian
  5. Meningkatkan ketahanan sekolah

BAB IV

TIM GERAKAN DISIPLIN SEKOLAH (GDS)

Pasal 5

  1. Tim GDS adalah sebuah Tim yang di bentuk atas dasar Surat Keputusan Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Kota Serang
  2. Tim GDS berfungsi untuk membantu program sekolah dalam hal peningkatan kedisiplinan peserta didik
  3. Tim GDS terdiri dari Kepala Sekolah sebagai Penanggungjawab, dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Pembina OSIS, BP/BK, Wali Kelas dan Guru Piket
  4. Tugas Pokok tim GDS akan diatur lebih lanjut dalam lampiran Surat Keputusan Kepala Sekolah

BAB V

KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Pasal 6

  1. Kegiatan Belajar Mengajar dimulai pukul 07.00 s.d. 15.00 WIB,   diawali  dengan   membaca ayat suci Al Qur’an bagi yang muslim masing masing maksimal selama 10  menit dipimpin oleh guru yang mengajar jam pertama dan membaca buku baik fiksi ataupun non fiksi sebagai bentuk pelaksanaan budaya literasi sekolah
  2. Pada akhir pelajaran juga dilakukan do’a dengan dipimpin oleh guru yang mengajar jam terakhir maksimal selama 5
  3. Peserta didik yang datang terlambat boleh masuk mengikuti kegiatan belajar mengajar apabila mendapat ijin dari Guru Piket, dan diatur sebagai berikut :
    1. Peserta didik sepuluh menit sebelum jam pertama harus sudah hadir di sekolah
    2. Peserta didik terlambat sampai 5 menit (07.05), diberikan surat ijin masuk oleh petugas piket
    3. Peserta didik terlambat lebih dari 5 menit diberikan sangsi oleh petugas piket dengan melakukan kegiatan kebersihan lingkungan. dan tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran jam pertama
    4. Peserta didik terlambat lebih dari 45 menit ( 1 jam pelajaran ), tidak diijinkan mengikuti pelajaran pertama ( 2 jam pertama)
    5. Jika peserta didik terlambat lebih dari 5 sampai 45 menit dalam satu minggu sebanyak 2 kali, diberi surat peringatan
    6. Jika peserta didik terlambat lebih dari 5 sampai 45 menit dalam satu minggu 3 kali atau lebih, maka dihitung alpha 1 hari dan diminta menghadirkan orang tua untuk pembinaan
    7. Jika keterlambatan peserta didik berulang ulang dalam satu bulan (lebih dari 8 x) , peserta didik bersangkutan dilakukan pembinaan dengan di skor selama 1 hari dilarang ke sekolah dan diberikan tugas oleh guru piket
    8. Jika keterlambatan peserta didik masih terus berulang dalam dua bulan ( lebih dari 12 x), peserta didik bersangkutan dilakukan pembinaan dengan di skor selama 3 hari .
  4. Apabila berhalangan hadir, peserta didik wajib memberikan surat ijin peserta didikdikeluarkan oleh orang tua dan surat keterangan dari dokter bagi yang sakit lebih dari 3 hari, yang ditujukan kepada Kepala Sekolahah atau Wali Kelas. Surat cuti dibuat rangkap 2 dengan rincian : 1 lembar untuk Guru Piket, dan 1 lembar untuk keterangan di kelas.
  5. Peserta didik bila dalam satu semester Alpha/tidak ada keterangan mencapai 18 kali, maka akan dikembalikan kepada orang tuanya
  6. Peserta didik yang meninggalkan jam pelajaran/sekolah, harus seijin guru piket dan guru mata pelajaran.
  7. Peserta didik hanya boleh menerima tamu pada jam istirahat dengan ijin guru piket kecuali ada keperluan yang sangat mendesak.
  8. Peserta didik hanya dapat meninggalkan sekolah sebelum jam sekolah selesai, jika dijemput oleh orang tua/ wali/ keluarga dengan alasan sesuai dan logis
  9. Setiap peserta didik wajib mengikuti seluruh mata pelajaran dengan ketentuan ;
  10. Kehadiran minimal 95% dari setiap mata pelajaran yang diikuti, apabila tidak terpenuhi maka dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk penentuan kenaikan kelas
  11. Harus menyelesaikan tugas dan ulangan yang ditentukan oleh guru.
  1. Apabila peserta didik akan meninggalkan sekolah sebelum jam belajar sekolah berakhir oleh karena sakit atau ijin keperluan lain, harus minta ijin kepada semua guru bidang studi yang ditinggalkan, dan baru boleh meninggalkan sekolah setelah mendapat surat ijin meninggalkan sekolah dari guru piket.
  2. Wajib mengikuti semua kegiatan belajar mengajar sejak jam pertama hingga jam terakhir , serta pulang secara bersama-sama setelah tanda bel pelajaran terakhir dibunyikan.
  3. Peserta didik wajib di dalam kelas pada jam-jam kegiatan belajar mengajar dan tetap berada dilingkungan  sekolah pada saat jam istirahat.

BAB VI

TATA TERTIB BERPAKAIAN

Pasal 7

  1. Senin – Selasa, pakaian seragam OSIS yaitu putih abu-abu lengkap dengan atributnya/baju kurung untuk siswi berjilbab, celana panjang/rok abu-abu, berdasi, ikat pinggang hitam,kaos kaki putih polos, sepatu hitam, baju dimasukan ke dalam celana/rok, rok wanita dibawah betis.
  2. Rabu – Kamis , pakaian batik sekolah lengan pendek/baju kurung untuk siswi berjilbab, celana/rok abu-abu panjang, kaos kaki putih polos,ikat pinggang hitam, sepatu hitam dan baju dimasukan celana/rok
  3. Jumat, pakaian pramuka lengkap dengan atributnya/baju kurung untuk siswi berjilbab, kaos kaki putih polos, ikat pinggang hitam,sepatu hitam, baju dimasukkan ke dalam celana/rok kecuali siswi berjilbab.
  4. Potongan dan bahan pakaian seragam serta atribut sesuai dengan ketentuan/model yang telah ditetapkan oleh sekolah , antara lain :
    1. Siswa: celana tidak gembyong dan atau tidak berujung pensil
    2. Siswi : rok panjang
  5. Pakaian seragam dalam keadaan bersih dan rapi (tidak kotor/lusuh).
  6. Baju bagian bawah dimasukan pada celana/rok sehingga tampak ikat pinggangnya.
  7. Mengenakan Topi sekolah saat Upacara bendera/tidak memakai selain topi sekolah
  8. Tidak mengenakan sweater, jaket,tas, gelang atau aksesoris lainnya selama di lingkungan sekolah kecuali dalam kondisi tertentu (cuaca dingin/sakit)

BAB VII

ETIKA , ESTETIKA DAN SOPAN SANTUN

 Pasal 8

  1. Menghormati Kepala Sekolah , guru dan karyawan SMA Negeri 6 Kota Serang
  2. Memberi salam, sapa dan membalas salam kepada semua waarga sekolah
  3. Bersikap sopan dan santun kepada semua warga sekolah.
  4. Menjunjung tinggi kultur dan adat budaya
  5. Saling menghargai, hormat menghormati dan toleran terhadap sesama warga sekolah
  6. Peserta didik Putri
  7. Rambut tidak terurai , tidak dicat.
  8. Kuku dipotong pendek,  tidak dicat
  9. Tidak ber make-up dan memakai perhiasan yang berlebihan
  10. Peserta didik Putra
    1. Alis mata, telinga dan tengkuk, serta tidak dicat Rambut dipotong rapi, tidak menyentuh.
    2. Kuku dipotong pendek, tidak dicat
    3. Tidak memakai assesoris (gelang, kalung, subang, anting, rantai dll)
    4. Tidak bertato.
  11. Berbicara secara santun , baik terhadap guru/ karyawan maupun teman-teman sekolah.
  12. Menjaga keamanan dan ketertiban selama di sekolah maupun sepulang sekolah.

 

BAB VIII

TATA TERTIB UPACARA BENDERA

Pasal 9

  1. Upacara bendera dilaksanakan setiap hari Senin
  2. Semua guru, pegawai dan  peserta didik wajib mengikuti upacara bendera dengan tertib
  3. Petugas penyelenggara upacara digilir per kelas , dikoordinasikan oleh OSIS dan Wakasek Kepeserta didikan
  4. Pembina upacara adalah Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah/Wali Kelas /Guru berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan


 PROSEDUR PELAKSANAAN UPACARA

PASAL 10

  1. Upacara bendera dimulai tepat pukul 07.00 WIB
  2. Pengurus OSIS           mengecek ke setiap kelas , untuk menemukan peserta didik yang berhalangan mengikuti upacara dan meminta alasan tentang ketidak hadirannya dalam upacara
  3. Pembina OSIS mengedarkan tanda daftar hadir upacara kepada Guru dan Pegawai
  4. Wakil Kepala Sekolah dan atau staff bagian kesiswaan bertugas mengkoordinir ketertiban peserta didik di belakang barisan.
  5. Upacara diawali dengan pengecekan kesiapan barisan per kelas oleh Ketua Kelas meliputi : kehadiran, atribut upacara, kerapihan pakaian dan rambut, sepatu dan kaos kaki. Kegiatan ini dilakukan maksimal 5 menit. Hasil ini dilaporkan oleh ketua kelas kepada Wali kelas dan digunakan sebagai Laporan Wali kelas dalam rapat rapat penentuan Nilai Ahlak Mulia.
  6. Penaikan  bendera maksimal berlangsung = 6 menit, pembacaan Pancasila = 3 menit, Pembukaan UUD-45 = 3 menit, Janji Peserta didik = 3 menit , Doa = 3 menit , lagu wajib = 5 menit dan  pembinaan selama 10 menit dan kegiatan lain selama 7 menit
  7. Bahan pembinaan menggunakan Pedoman Pembinaan Upacara yang pada intinya menyangkut : Sosialisasi Kurikulum, Prosedur Mutu, Jaminan Mutu, Tata Tertib, Cara Berpikir.
  8. Pada setiap akhir bulan seluruh komponen penyelenggara Upacara ; Bagian Kesiswaan, Bagian Humas dan Wali Kelas menyampaikan Laporan Kegiatan Upacara kepada Kepala Sekolah untuk diambil tindakan perbaikan. 

BAB IX

TATA TERTIB KELAS

Pasal 11

  1. Setelah tanda bel masuk dibunyikan semua peserta didik harus sudah berada di kelas;
  2. Peserta didik diharuskan berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan setelah pelajaran berakhir dipimpin oleh ketua kelas;
  3. 10 menit setelah bel masuk, guru belum berada di kelas, ketua kelas segera menghubungi guru piket;
  4. Peserta didik yang terlambat harus memperlihatkan surat izin dari guru piket sebelum memasuki kelas;
  5. Selama belajar peserta didik tidak diperkenankan meninggalkan kelas tanpa seizin guru yang bersangkutan
  6. Peserta didik yang tidak masuk sekolah, pada hari berikutnya harus membawa surat ijin dari orang tua/wali atau pemberitahuan lewat telepon.
  7. Selama KBM berlangsung peserta didik tidak diperkenankan bercanda, berisik, dan melakukan kegiatan yang mengganggu proses belajar mengajar.
  8. Seluruh peserta didik berkewajiban menjaga dan merawat sarana dan prasarana di kelas termasuk meja-kursi, papan tulis, alat kebersihan dan lain-lain.
  9. Kebersihan, kerapihan dan keindahan kelas menjadi tanggung jawab ketua kelas, wali kelas dan seluruh peserta didik.

BAB X

LINGKUNGAN SEKOLAH

Pasal 12  

  1. Ikut menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah.
  2. Membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
  3. Membersihkan ruangan kelas setiap hari oleh petugas Piket Kelas masing-masing.
  4. Mengatur sepeda/sepeda motor di tempat parkir sekolah secara teratur dan rapi serta dikelompokan sesuai tempat parkir yang telah ditentukan.
  5. Tidak melakukan corat-coret baik di dinding maupun meja belajar.
  6. Ikut menjaga kelestarian tanaman sekolah.
  7. Tidak merusak sarana /prasarana yang ada di sekolah.

 

BAB XI

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER DAN PENGEMBANGAN DIRI

Pasal 13

Ayat 1

Tujuan

  1. Sebagai sarana pendukung bagi para peserta didik dalam pembentukan kepribadian yang utuh menyangkut baik fisik, emosi, kerohanian, maupun intelektual.
  2. Sebagai sarana penyaluran bakat dan minat, serta pengembangan kreativitas di bidang olah raga, seni dan organisasi
  3. Sebagai sarana latihan kepemimpinan untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dan kerjasama yang sehat baik dengan sesama anggota Keluarga Besar SMA Negeri 6 Kota Serang maupun pihak-pihak lain
  4. Sebagai sarana untuk memupuk semangat kepedulian bagi sesama agar semakin mampu membuka dan melibatkan diri dalam masyarakat secara nyata, kritis dan bertanggungjawab.

Ayat 2

Pelaksanaan

  1. Untuk mewujudkan tujuan di atas tidak dibenarkan peserta didik menenggelamkan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler secara berlebihan atau tidak ikut sama sekali. Oleh karena itu, peserta didik wajib minimal mengikuti satu macam kegiatan ekstrakurikuler (olah raga atau non olah raga).
  2. Aktivitas ekstrakurikuler peserta didik SMA Negeri 6 Kota Serang akan dilaporkan di dalam buku
  3. Pada umumnya kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan pada sore hari di luar jam pelajaran. Pada jam 17.00 semua kegiatan harus sudah berakhir.
  4. Kegiatan yang sudah dipilih secara bebas mesti diikuti secara disiplin dan teratur sesuai dengan jadwal dan tidak berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Pilihan kegiatan ekstrakurikuler berlaku untuk satu tahun
  5. Peserta didik yang sudah mengikuti suatu klub olah raga atau non olah raga di luar sekolah diharapkan memberitahukan kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan/pembina ekskul

Ayat 3

Ketentuan Mengikuti Undangan Lomba di Luar Sekolah

  1. Setiap cabang ekstrakurikuler dapat mengikuti lomba-lomba yang diadakan oleh pihak luar baik SMA mau pun universitas dengan menggunakan nama SMA Negeri 6 Kota Serang
  2. Jenis perlombaan yang diikuti disesuaikan dengan ada tidaknya ekstrakurikuler yang ada di sekolah, baik yang resmi maupun yang hobi.
  3. Apabila acara lomba di luar berbarengan dengan acara sekolah, maka acara di sekolah yang harus diprioritaskan, maka undangan dari luar tidak ditanggapi.
  4. Penentuan keikutsertaan lomba ditentukan oleh Kepala Sekolah
  5. Biaya pendaftaran lomba dan transportasi dapat diminta ke Bendahara Sekolah.

 

BAB XII

LARANGAN-LARANGAN

Pasal 14

  1. Melanggar kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi oleh peserta didik sebagaimana diatur pada Bab IV sampai BAB X.
  2. Membawa sepeda motor yang tidak lengkap ( STNK, spion, helm, knalpot tidak standard) ke sekolah.
  3. Memarkir sepeda motor di luar pagar sekolah.
  4. Mengendarai sepeda / sepeda motor pada jam pelajaran di halaman sekolah.
  5. Membawa uang saku secara berlebihan.
  6. Bertingkah / berbicara teriak-teriak dan berbuat onar yang mengundang kerawanan sekolah.
  7. Mengucapkan/menuliskan kata-kata yang kotor dan tidak pantas, mengandung unsur SARA dan asusila yang menyinggung perasaan orang lain (kepala sekolah/guru/karyawan/sesama teman) baik di sarana sekolah maupun di media cetak atau elektronik seperti SMS, BBM, WA, Facebook, Twitter, Instagram, Yahoo Messenger dan sebagainya
  8. Melakukan penghasutan atau sejenisnya yang bersifat SARA.
  9. Berpacaran atau berdua-duaan dengan lawan jenis di lingkungan sekolah baik pada saat jam-jam sekolah maupun di luar jam sekolah.
  10. Membawa senjata tajam atau sejenisnya, yang diperkirakan dapat dipergunakan untuk hal-hal yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
  11. Berkelahi diantara sesama peserta didik SMA Negeri Kota Serang, maupun peserta didik/orang lain di luar SMA Negeri  Kota Serang.
  12. Merokok selama masih mengenakan seragam sekolah baik di sekolah maupun di luar sekolah.
  13. Berjudi atau hal-hal yang bisa diindikasikan perjudian.
  14. Mengambil barang – barang baik milik sekolah maupun milik teman yang bukan miliknya tanpa ijin
  15. Melakukan pemerasan atau sejenisnya yang bersifat atau diindikasikan p
  16. Melakukan pelecehan / penghinaan kehormatan martabat guru , karyawan maupun sesama peserta didik.
  17. Membawa/menyimpan/menggunakan barang yang tidak ada hubungannya dengan materi pembelajaran seperti buku bacaan /komik/majalah/ kartu domino/kartu remi/dvd/vcd/cd/video ataupun HP yang mengandung unsur pornografi .
  18. Membawa/mengkonsumsi/mengedarkan obat-obat terlarang ( Narkoba ) maupun minuman keras baik di sekolah maupun di luar sekolah.
  19. Pelecehan Seksual dan perbuatan Tidak senonoh
  20. Menikah dan atau hamil
  21. Melakukan semua tindakan dalam kategori tindakan kriminal (memeras,mengancam,mengambil hak milik orang tanpa ijin/mencuri)
  22. Bertato
  23. Menjadi anggota geng, atau memelopori menjadi geng.
  24. Memalsukan dokumen administrasi sekolah
  25. Menjalani proses hukum tindak pidana oleh pihak kepolisian
  26. Menggunakan alat komunikasi elektronik (HP) dalam kegiatan Pembelajaran/Evaluasi tanpa ijin
  27. Menyelenggarakan atau mengikuti kegiatan tanpa sepengetahuan/seijin sekolah.
  28. Memakai sandal, jaket, sweeter, rompi, syal, topi bukan OSIS, handuk, kacamata hitam, di dalam kelas ataupun di lingkungan sekolah
  29. Mengatasnamakan sekolah untuk melakukan kegiatan tertentu yang dapat merusak nama baik sekolah

BAB XIII

 MEKANISME PENANGANAN KASUS

Pasal 15

  1. Tahapan penanganan kasus pelanggaran tata tertib peserta didik :
    1. Peringatan secara lisan dan penindakan langsung
    2. Peringatan secara tertulis
    3. Pemanggilan orang tua / wali peserta didik
    4. Skorsing tidak boleh mengikuti pelajaran
    5. Dikembalikan kepada Orang tua / wali
    6. Dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat
  2. Setiap guru / karyawan berhak melakukan Peringatan secara lisan dan penindakan langsung kepada setiap peserta didik yang melakukan pelanggaran tata tertib peserta didik.
  3. Setiap guru / karyawan yang telah melakukan Peringatan secara lisan dan penindakan langsung terhadap peserta didik , untuk segera melaporkan kepada Wali Kelas / guru BP/BK berkaitan dengan pelanggaran tata tertib peserta didik yang dilakukan oleh peserta didik untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
  4. Tim GDS (Gerakan Disiplin Sekolah) memiliki wewenang melakukan Peringatan secara lisan dan penindakan langsung serta menetapkan dan memberikan besar skor pelanggaran kepada peserta didik yang secara nyata melakukan pelanggaran.
  5. Peringatan secara tertulis diberikan oleh sekolah dilengkapi dengan data pelanggaran yang telah dilakukan peserta didik berdasar usulan dari Tim GDS
  6. Tim GDS memberikan Laporan penanganan pelangaran peserta didik kepada BP/BK untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
  7. Pemanggilan orang tua / wali peserta didik yang melakukan pelanggaran dilakukan oleh BP/BK dan diketahui oleh Kepala Sekolah.
  8. Dalam hal sanksi berat dan sangat berat peserta didik dikembalikan kepada Orang tua / wali dan Dikeluarkan dari sekolah Tidak dengan hormat dilakukan setelah melalui rapat dewan guru.

PERINGATAN SECARA LISAN DAN PENINDAKAN SECARA LANGSUNG

Pasal 15

Ayat 1

Diberlakukan bagi peserta didik yang melanggar tata tertib peserta didik yang bersifat katagori ringan, seperti :

  1. Tidak mematuhi kewajiban sebagaimana diatur pada Bab IV sampai BAB X
  2. Penindakan langsung dapat berupa hukuman pembinaan yang bersifat mendidik.

PERINGATAN SECARA TERTULIS 

Pasal 15

Ayat 2

Diberlakukan bagi peserta didik yang melanggar tata tertib peserta didik yang bersifat pembinaan awal :

  1. Melanggar kewajiban sebagaimana Bab IV sampai BAB X secara berulang kali
  2. Tidak mengindahkan peringatan secara lisan dan penindakan secara langsung sebanyak 3 kali sebagaimana ketentuan Bab XII pasal 14
  3. Melanggar Larangan –larangan sebagaimana Bab XI pasal 13
  4. Peringatan tertulis berupa :
    1. Surat pemberitahuan kepada orang tua / wali
    2. Surat pernyataan / janji peserta didik yang diketahui oleh orang tua / wali.
    3. Peringatan tertulis untuk sebuah pelanggaran diberlakukan sebanyak-banyaknya 3 kali dan selebihnya dilakukan tahapan pemanggilan orang tua / wali peserta didik.

 PEMANGGILAN ORANG TUA / WALI PESERTA DIDIK

Pasal 15

Ayat 3

Diberlakukan bagi peserta didik yang melanggar tata tertib peserta didik yang bersifat pembinaan bersama:

  1. Telah melalui tahapan pembinaan sebagaimana disebutkan pada Bab XII pasal 14; ayat 1 dan ayat 2
  2. Melanggar Larangan –larangan sebagaimana Bab XI pasal 13
  3. Pemanggilan orang tua / wali peserta didik yang bersifat mendesak dapat dilakukan melalui telpon atau sarana komunikasi lainnya.

 SKORSING TIDAK BOLEH MENGIKUTI PELAJARAN

Pasal 15

Ayat 4

Diberlakukan bagi peserta didik yang melanggar tata tertib peserta didik yang bersifat peringatan Keras :

  1. Telah melalui tahapan pembinaan sebagaimana disebutkan pada Bab XII pasal 14 ; ayat 1, ayat 2 dan ayat 3
  2. Melanggar Larangan –larangan sebagaimana Bab XI pasal 13 secara berulang.
  3. Melanggar tahapan-tahapan pembinaan yang telah dilakukan : Peringatan secara lisan , Peringatan secara tertulis , Pemanggilan orang tua / wali peserta didik.

DIKEMBALIKAN KEPADA ORANG TUA / WALI

Pasal 15

Ayat 5

Diberlakukan bagi peserta didik yang melanggar tata tertib peserta didik yang bersifat dengan Kategori berat:

  1. Telah melalui tahapan pembinaan sebagaimana disebutkan pada Bab XII ; pasal 14 ; ayat 1, ayat 2. Ayat 3 dan ayat 4
  2. Melanggar Larangan –larangan sebagaimana Bab XI pasal 13

DIKELUARKAN DARI SEKOLAH DENGAN TIDAK HORMAT

Pasal 15

Ayat 6

Diberlakukan bagi peserta didik yang melanggar tata tertib peserta didik yang bersifat Kategori amat sangat berat :

  1. Telah melalui tahapan pembinaan sebagaimana disebutkan pada Bab XII ; pasal 14 ; ayat 1, ayat 2. Ayat 3 dan ayat 4
  2. Melanggar Larangan –larangan sebagaimana Bab XI pasal 13
  3. Diindikasikan sudah tidak memungkinkan dilakukan pembinaan

 

BAB XIII

KASUS PRIBADI

Pasal 16

  1. Kasus pribadi dimaksudkan sebagai kasus bukan bersifat pelanggaran Tata Tertib Peserta didik
  2. Penanganan dilakukan oleh Wali Kelas, Guru BP/BK dan orang tua / wali

peserta didik