ALI AMANGKU: PENJAGA BUMI JAWARA

Oleh: Ganda Yanuar, S.Pd.

  1. Pendahuluan

“Bangsa Indonesia berutang atas perjuangan pemuda dari masa ke masa.” (Endah Heliana, 2016, https://mediaindonesia.com/read/detail/62108-pemuda-kemerdekaan-dan-perubahan, 04 Mei 2019). Penggalan pernyataan tersebut rasanya tidak terlalu berlebihan, karena pernyataan tersebut sesuai dengan fakta sejarah perjalanan bangsa ini. Jika ditelisik ke belakang, momen-momen perubahan besar di Indonesia selalu tidak lepas dari peranan kaum pemuda. Zaman Pergerakan Nasional di awal abad ke-20, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, bahkan Peristiwa Reformasi 1998 membuktikan bahwa kaum muda memegang peranan sangat penting.

Khusus periode sejarah Proklamasi Kemerdekaan 1945, peranan pemuda begitu menonjol. Bahkan jika harus dikatakan secara ekstrem, kemerdekan Indonesia tidak akan tercapai jika kaum muda pada saat itu “tidak membandel” sampai harus “menculik” Proklamator kita ke Rengasdengklok. Peranan pemuda dalam kemerdekaan tentu saja tidak hanya terjadi di tingkat pusat (Ibu Kota). Di berbagai wilayah lain (daerah), pemuda juga memainkan peranan penting selain tentu saja peranan tokoh senior yang kharismatik. Seperti halnya di wilayah Banten (Serang), salah satu tokoh pemuda yang besar peranannya terhadap usaha menegakkan kekuasaan Republik Indonesia yang baru merdeka adalah tokoh yang bernama Ali Amangku.

Ali Amangku merupakan tokoh pemimpin (ketua) kaum muda di Banten yang melalui organisasinya Angkatan Pemuda Indonesia (API) sangat berperan penting dalam mengatasi berbagai pergolakan politik, sosial dan ekonomi di wilayah Serang pada masa kemerdekaan. Mengenai profil Ali Amangku, memang tidak banyak sumber tulisan yang menjelaskan siapa sebenarnya tokoh tersebut. Hal ini merupakan kesempatan yang besar bagi peminat sejarah Banten (terutama periode proklamasi dan revolusi) untuk mengkaji lebih dalam tentang siapa tokoh ini. Dalam sebuah sumber disebutkan, bahwa Ali Amangku adalah pemuda asli Serang yang mendirikan organisasi Angkatan Pemuda Indonesia Cabang Serang. Ali Amangku sendiri menjadi ketua API Pemuda dan API Pemudi diketuai oleh Sri Sahuli (Michrob, 1987:50). Melalui organisasi API yang bermarkas di Kaujon-Kalimati, Ali Amangku membawa kaum pemuda untuk terlibat aktif dalam politik di awal kemerdekaan. Beberapa anggota API yang terlibat dalam politik pada saat itu antara lain: Machidi, Ahmad Mudjimi, M. Basri, Melli, Sutinah, Sufiah dan Emi (Michrob, 1987:50).

Kabar kemerdekaan yang disampaikan oleh Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk Saleh (utusan Chaerul Saleh) kepada tokoh Banten Seperti K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun, Zulkarnain Surya dan Ali Amangku disambut antusias oleh kelompok pemuda (Hendri F. Isnaeni, Historia id, 17 Agustus 2018, https://historia.id/politik /articles/ proklamasi-kemerdekaan-sampai-di-banten-Pdjxl, 04 Mei 2019). Bukti sambutan antusias tersebut adalah pada tanggal 22 Agustus 1945, beberapa anggota API seperti Sri Sahuli menurunkan bendera Jepang yang ada di Hotel Vos, Serang. Peristiwa tersebut disusul dengan penurunan bendera Jepang di kantor-kantor pemerintah pendudukan Jepang lainnya keesokan harinya (Michrob, 1987:47). Peran penting tokoh Ali Amangku baik dalam organisasi API maupun perannya dalam organisasi BKR dapat dijelaskan dalam beberapa subbab yang akan dibahas selanjutnya.

 

  1. Penjaga Serang Pada Masa Transisi.

Penyampaian berita proklamasi oleh utusan pemuda dari Jakarta, dibarengi pula amanat kepada para pemuda untuk secepatnya merebut kekuasaan dan penguasaan militer dari tangan Jepang. Hal tersebut dilandasi oleh pemikiran, jangan sampai Indonesia terlambat dan dijadikan pampasan perang oleh sekutu. Atas adanya perintah tersebut, para pemuda semakin berani untuk melucuti senjata tentara Jepang dan mengambil alih kekuasaan. Melihat gelagat seperti itu, banyak orang-orang Jepang Sakura, yaitu orang-orang Jepang sipil, pergi meninggalkan Serang menuju Jakarta. Bahkan Syucokan (Residen) Banten Yuki Yoshii juga menyerahkan jabatannya kepada fuku-syucokan (wakil residen) Raden Tirtasyujatna.

Selain orang-orang Jepang Sakura, para pamong praja yang berasal dari daerah Priangan pun banyak yang meninggalkan Banten. Kepergian kaum pamong praja tersebut bukan dikarenakan kesetiaan mereka kepada pemerintah pendudukan Jepang, Namun kepergian mereka dikarenakan adanya kebencian orang-orang Banten asli, terutama kaum ningratnya, kepada golongan pamong praja yang berasal dari Priangan (Michrob, 1987:47). Mereka (pamong praja) takut akan menjadi sasaran luapan kemarahan orang-orang Banten. Bahkan Raden Tirtasujatna yang baru menerima delegasi kekuasaan dari Yuki Yoshii pun melarikan diri ke daerah Bogor bersama keluarganya (Lubis, 2014: 258).

Semenjak kepergian Raden Tirtasujatna, maka jabatan residen Banten menjadi kosong. Kekosongan ini tentu saja berdampak kepada tidak berjalannya roda pemerintahan di Banten pada awal-awal kemerdekaan. Pada akhirnya kondisi politik dan sosial di wilayah Banten (terutama Serang) menjadi sangat kacau. Kondisi kacau tersebut diperparah dengan kedatangan Pasukan Sekutu yang membuat kondisi politik, sosial dan ekonomi semakin buruk. Di tengah kacaunya keadaan di Serang, hanya kelompok pemuda (API) yang berani bergerak dan mengambil inisiatif untuk mengatasi keadaan kacau tersebut. Upaya yang dilakukan oleh kelompok API di bawah pimpinan Ali Amangku adalah dengan cara melakukan patroli untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kondusifitas di wilayah Serang.

Ali Amangku juga mendesak kepada sejumlah tokoh senior Banten seperti K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun dan Zulkarnaen Surya Kertalegawa untuk mengadakan perundingan membahas kondisi Banten yang sedang kacau. Atas desakannya, pada pertengahan bulan September 1945, diadakan pertemuan para tokoh masyarakat se-Kabupaten Serang di rumah Zulkarnaen Surya Kertalegawa yang berlokasi di dekat Rumah Sakit Serang. Dalam perundingan tersebut dibicarakan banyak hal tentang kondisi Banten (terutama Serang). Hasil dari pertemuan tersebut adalah adanya pembagian tugas yaitu: Urusan administrasi pemerintahan diserahkan kepada K.H. Ahmad Chatib (pemuda mengusilkan agar Ahmad Chatib diangkat menjadi residen Banten). Urusan kemiliteran diserakan kepada K.H. Sjamun dan pengorganisasian badan-badan kepemudaan diserahkan kepada Ali Amangku (Handayani, 2016: 82).

Pemaparan di atas jelas membuktikan peranan yang juga tidak dapat dikatakan kecil dari kelompok pemuda di bawah pimpinan Ali Amangku. Pada akhirnya pembagian tugas pemerintahan, militer dan kepemudaan membuat pemerintahan di Banten kembali berjalan walaupun belum dapat dikatakan selesai. Perlu diingat Banten merupakan salah satu wilayah yang tetap “setia” (tidak menerima ide bergabung ke negara federal Pasundan) kepada pemerintah Republik Indonesia.

 

 

 

  1. Penyerangan Markas Kampetai

Dalam urusan kemiliteran, K.H. Sjamun segera membentuk BKR di keresidenan Banten. Kebanyakan anggotanya berasal dari bekas anggota PETA dan para pemuda yang tergabung dalam API. Struktur organisasi BKR masih mengadopsi susunan yang ada dalam organsiasi PETA. Hal ini sangat dipahami mengingat K.H. Sjamun adalah bekas tentara PETA. Masalah terbesar yang dihadapi oleh BKR Banten yaitu adalah minimnya jumlah persenjataan. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pimpinan BKR mencoba mengkomunikasikan dengan residen Banten. Hasil komunikasi antara pimpinan BKR dengan residen Banten adalah rencana “meminta” persenjataan kepada pihak Kampetai. Usaha meminta tersebut kemudian dirundingkan kepada pihak Kampetai. Melalui dua kali pertemuan dengan pihak Kampetai, diperoleh keputusan bahwa Kampetai bersedia memberikan persenjataan mereka kepada BKR dengan persyaratan, pihak RI dapat menjamin keselamatan seluruh pasukan Jepang yang berada di daerah keresidenan Banten.

Persyaratan dari pihak Jepang kemudian disanggupi oleh residen Banten dengan membuat pengumuman agar seluruh orang Jepang yang masih ada di daerah Banten untuk berkumpul di Serang, selambat-lambatnya pada tanggal 9 Oktober 1945, untuk kemudian akan dibawa ke Jakarta dengan pengawalan BKR. Dalam tugas  mengumpulkan orang-orang Jepang dari beberapa daerah Banten seperti Anyer, Gorda, Sajira para pemuda seperti Ali Amangku, Sadheli, Tubagus Marzuki, Abdulmukti, dan Yudhi mendapatkan peran yang sangat dominan. Ditugaskannya para pemuda untuk mengumpulkan orang-orang Jepang dikarenakan adanya kekhawatiran Kampetai akan adanya gangguan dari rakyat dalam perjalanan menuju ke Serang.

Dalam pengawalan orang-orang Jepang dari Anyer oleh pemuda pimpinan Ali Amangku tidak mendapatkan hambatan sama sekali. Begitu pun tugas membawa orang-orang Jepang dari Gorda oleh Sadheli dan Tubagus Marzuki tidak menemui kendala yang berarti. Namun kondisi yang berbeda dialami oleh Abdulmukti dan Yudhi yang mengawal orang-orang Jepang dari Sajira Rangkasbitung. Rombongan ini diserang oleh kelompok pemuda diwilayah Warunggunung Lebak. Penyerangan tersebut dilatarbelakangi oleh dendam rakyat Lebak kepada Jepang, sehingga ketika melihat anggota Kampetai dalam rombongan tersebut, maka dengan sporadis rakyat menyerangnya. Dalam serangan yang dilakukan oleh rakyat tersebut telah menewaskan beberapa pasukan Kampetai yang ikut mengawal penjemputan orang-orang Jepang. Tindakan penyerangan tersebut tentu saja disesalkan baik oleh pihak Jepang maupun pihak RI (Michrob, 1987:57).

Penyerangan atas rombongan tentara Jepang di Warunggunung, ternyata membuat Kampetai mengurungkan niatnya untuk menyerahkan senjata kepada BKR. Melihat hal tersebut, Ali Amangku mencoba berunding dengan pihak Kampetai agar tidak mengurungkan niatnya. Namun pihak Jepang tidak mau ambil peduli lagi, bahkan Ali Amangku melihat pihak Jepang telah membuat barikade-barikade di sekeliling markasnya sebagai persiapan menghadapi suatu serangan (Michrob, 1987:59). Melihat kondisi tersebut, maka kemudian Ali Amangku melaporkan kepada wakil residen Zulkarnaen Surya Kartalegawa dan pimpinan BKR K.H. Sjamun. Ketiga tokoh ini kemudian mengadakan perundingan untuk menyikapi pihak Jepang. Keputusan yang diambil oleh ketiga orang tersebut adalah melakukan penyerangan ke markas Kampetai. Keputusan yang cukup beresiko mengingat persenjataan mereka sangat minim.

Hasil pertemuan ketiga tokoh tersebut kemudian dengan cepat disebarluaskan kepada para pemimpin pemuda, ulama, dan tokoh masyarakat didaerah sekitar Serang. Mendengar berita tersebut, para pemimpin dari berbagai daerah seperti Kecamatan Ciomas, Ciruas, Pabuaran, Baros, Taktakan, Padarincang, Kramatwatu, dan Cilegon berdatangan untuk membicarakan mengenai rencana penyerangan. Dalam perundingan tersebut, para tokoh bersepakat membagi medan menjadi 4 sektor, yaitu sektor utara dipimpin oleh Iski, sektor timur dipimpin oleh Zaenal Falak, sektor barat dipimpin oleh Nunung Bakri dan sektor selatan dipimpin oleh Salim Ninong. Untuk koordinasi keseluruhan sektor tersebut maka dikoordinasikan oleh Ali Amangku.

Pada tanggal 10 Oktober 1945, warga disekitar markas kampetai dihimbau untuk mengosongkan atau meninggalkan rumahnya. Selain persiapan strategi yang dilakukan oleh tentara (BKR), ternyata ibu-ibu dan remaja putri yang tinggal di kampung sekitar markas Kampetai ikut berpartisipasi dengan membangun dapur umum untuk menyediakan bahan makanan dan minuman para tentara yang bersiap menyerang. Bahkan beberapa orang Cina juga ikut berpartisipasi membantu masyarakat Serang (Handayani, 2016: 90).

Berdasarkan startegi yang disepakati pada saat itu adalah penyerangan akan dilakukan setelah lewat waktu subuh (sekitar pukul 04.30). Setelah terdengar suara adzan subuh sebagai tanda waktu penyerangan, maka lampu-lampu disekitar markas Kampetai mulai dipadamkan oleh pihak BKR. Penyerangan dimulai melalui sektor utara dibawah pimpinan Iski dengan kode penyerangan adalah teriakan “Allahu Akbar. Melihat hal tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa semangat yang kuat mendasari para pejuang ini adalah semangat Jihad yang kuat. Namun karena kuatnya pertahanan Jepang, hingga pukul 06.30 pertempuran masih tetap berlangsung. Pihak republik tidak dapat mendekati markas Kampetai karena tempat tesebut dikelilingi oleh gedung terbuka sehingga akan memudahkan tentara Jepang untuk menembak tentara republik.

Sekitar pukul 07.00, tersiar kabar bahwa pemuda Nunung Bakri dan M. Juhdi Ma’mur di sektor selatan telah gugur. Kabar tersebut membuat konsentrasi pasukan BKR menjadi rusak. Dengan penuh amarah mereka melakukan penyerangan secara terbuka ke markas Kampetai dengan jarak yang sangat dekat. Pertempuran sendiri terus berlanjut hingga pukul 10.00 dengan kondisi yang kurang menguntungkan untuk pihak Republik. Melihat kondisi tersebut, residen Banten K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun memerintahkan kepada para pimpinan pasukan agar tidak bertindak ceroboh dan tetap mengikuti garis komando dari Ali Amangku.

Menjelang petang, sekitar pukul 19.00-20.00, dari arah markas Kampetai terdengar tembakan secara membabi buta ke arah kampung Benggala. Selama setengah jam durasi tembakan yang mambabi buta tersebut akhirnya selesai. Kondisi tersebut dibiarkan sempai keesokan harinya, anggota BKR hanya berjaga-jaga saja. Heningnya suasana markas Kampetai ternyata menimbulkan rasa heran bagi pihak republik. Keadaan tersebut membuat beberapa pemuda memberanikan diri medekat ke markas Kampetai. Ternyata markas tersebut telah kosong, dan hanya ditemukan dua mayat tentara Jepang yang diduga malakukan bunuh diri. Sebagian besar anggota Kampetai ternyata dapat melarikan diri ke Jakarta melalui sektor timur yang dinilai merupakan sektor “terlemah” pengawasannya. Mulai saat itu pihak republik berhasil menduduki markas Kampetai.

 

  1. Penumpasan Gerakan Kelompok Ce Mamat

Untuk mengisi kekosongan jabatan residen Banten, maka pada tanggal 10 September 1945, Ahmad Chatib secara resmi diangkat oleh Presiden Soekarno. Setelah pengangkatannya, Ahmad Chatib dengan cepat bergerak membentuk pemerintahan di wilayah Banten. Dalam jajaran pemerintahannya, Ahmad Chatib tetap mempertahankan dan meminta para bupati lama atau yang non aktif untuk sementara meneruskan tampuk kepeminpinan di daerah. Para Bupati tersebut antara lain Raden Hilman Djajadiningrat (kabupaten Serang), Raden Djumhara (kabupaten Pandeglang), Raden Hardiwinangun (kabupaten Lebak). Sedangkan jabatan KNID diserahkan kepada Ce Mamat, yaitu seorang yang pernah terlibat dalam pemberontakan komunis pada tahun 1926. Setelah itu ia melarikan diri ke Malaya dan diterima menjadi anggota Partai Republik Indonesia yang didirikan Tan Malaka. Tahun 1930 ia lari ke Palembang dan mendirikan studi klub politik. Dua tahun kemudian ia pulang kampung dan menjadi pokrol membela kaum jawara di pengadilan (Lubis, 2014:263).

Penetapan para pejabat lama dalam jabatan pemerintahan ternyata tidak memuaskan beberapa kelompok, diantaranya adalah kelompok Ce Mamat. Mereka berdalih bahwa pejabat lama yang notabene berasal dari kaum menak tidak serius dan setengah hati menjalankan tugasnya. Selain itu juga kelompok yang menolak beranggapan bahwa keanggotaan KNID tidak representatif dan tidak demokratis. Penolakan tersebut diaktualisasikan dengan membentuk “Dewan Perwakilan Rakyat” versinya Ce Mamat. Selain membentuk “Dewan”, kelompok Ce Mamat juga merangkul kaum jawara dalam suatu organisasi “pasukan” yang bernama Gulkut. Pembentukan “Dewan” dan Gulkut ternyata mendapatkan penerimaan yang luas terutama dikalangan petani dan kaum jawara. Slogan-slogan komunis seperti “satu untuk semua, semua untuk satu”, utang padi dibayar padi, utang darah dibayar darah” terus dikumandangkan oleh kelompok Ce Mamat. Kondisi ini tentu saja menjadikan kegelisahan tersendiri bagi masyarakat umum terutama kalangan pegawai pemerintah.

Keberanian kelompok Ce Mamat semakin menjadi-jadi, pada bulan Oktober 1945 markar BKR diserang oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Gulkut. Selain penyerangan terhadap markas militer, kelompok Gulkut juga melakukan serangkaian pembunuhan dan kekacauan. Wedana Ciomas, Raden Sastradikarta ditangkap dan dipenjarakan. Puncak dari kekacauan yang dilakukan oleh kelompok Ce Mamat adalah mendatangi Residen Banten K.H. Ahmad Chatib pada tanggal 27 Oktober 1945 pukul 10 pagi. Dalam pertemuan tersebut, Ce Mamat memaksa agar Residen Banten menyerahkan kekuasaan kepadanya. Atas dasar pertimbangan kondusifitas dan mencegah jatuhnya korban jiwa, maka Ahmad Chatib menuruti keinginan kelompok Ce Mamat tersebut. Dengan dikuasainya pemerintahan oleh Ce Mamat dan kelompoknya, menjadikan mereka semakin brutal. Beberapa aksi geledah rumah tokoh masyarakat, penangkapan, pemenjaraan, dan pembunuhan dilakukan oleh kelompok ini.

Menanggapi semakin buruknya kondisi politik dan sosial di Banten, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengunjungi Banten pada tanggal 9-10 Desember 1945. Kedua tokoh tersebut mempertanyakan kesiapan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dalam suatu rapat akbar di Alun-Alun Serang. Jawaban rakyat pun menyatakan siap mempertahankan kemerdekaan dan berdiri dibelakang pemerintah. Mendapatkan dukungan yang begitu masif dari rakyat, KH. Ahmad Chatib menginstruksikan K.H. Sjamun untuk menumpas kelompok Ce Mamat. Untuk mempersiapkan strategi penumpasan kelompok Ce Mamat, K.H. Sjamun mempercayakan kepada Mayor Ali Amangku, Komandan Bataliyon Pengintai. Ternyata dalam tempo yang singkat, gerakan kelompok Ce Mamat dapat dipatahkan. Ce Mamat sendiri melarikan diri ke Lebak, kemudian ke Bogor, dan disanalah tertangkap untuk kemudian diserahkan kepada Komandemen Jawa Barat di Purwakarta dan selanjutnya dibawa ke Yogyakarta (Lubis, 2014:265).

 

  1. Penutup

Secara historis, peranan pemuda khususnya tokoh Ali Amangku dalam dinamika pergolakan politik, sosial, ekonomi di wilayah Banten pada awal kemerdekaan tidak dapat dipandang sebelah mata. Pemaparan di atas membuktikan premis bahwa kaum pemuda merupakan salah satu elemen terpenting dalam perubahan bangsa ini. Dalam konteks  pendidikan dan konteks lokal, sudah sepantasnya pemerintah Provinsi Banten dan unsur-unsur pendidikan di Banten (terutama guru-guru sejarah) untuk lebih secara masif dan memberikan porsi yang cukup besar untuk menggalakan penulisan-penulisan tentang tokoh-tokoh muda yang berperan penting dalam proses perubahan masyarakat. Agar tokoh-tokoh seperti Ali Amangku dapat hadir dalam ruang kelas dan memberikan pembelajaran tentang nilai perjuangan, pengorbanan, nasionalisme dan lain-lain kepada generasi berikutnya.

Penyampaian sejarah perjuangan bangsa ini perlu terus dilakukan kepada generasi milenial, agar mereka tahu dan paham akan perjalanan bangsanya hingga saat ini. dengan tahu dan paham maka diharapakan para siswa atau generasi muda dapat memetik makna dan pembelajaran dari setiap peristiwa sejarah. Muara dari pengetahuan sejarah yang bermakna oleh setiap siswa atau generasi milenial adalah terpeliharanya semangat persatuan yang akan membawa peradaban Indonesia semakin maju.

 

  1. DAFTAR SUMBER

 

Sumber Buku, Disertasi, Tesis dan Skripsi

Lubis, Nina dkk. 2014. Sejarah Banten: Membangun Tradisi dan Peradaban. Serang: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten.

Michrob, Halwany, dan Chudari, A. Mudjahid. 1993. Catatan Masa Lalu Banten. Serang: Penerbit Saudara.

Michrob, Halwany. Hasan, M. Ambary., dan Uka Tjandrasasmita (ed). 1987. Naskah Sejarah Kerajaan Banten dan Pemerintahan Serang Dari Masa ke Masa. Serang: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Serang.

Machdum Bachtiar. 2014. Kepemimpinan K.H. Sjam’un (Tokoh Agama, Pendidikan, dan Militer serta Perannya Dalam Perubahan Sumber Daya Manusia di Banten. [Disertasi]. Serang: Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin.

Rahayu Permana. 2004. Kyai Haji Sjam’un (1883-1949): Gagasan dan Perjuangannya. [Tesis]. Depok: Universitas Indonesia.

Dedi Soneta. 2011. Pemberontakan Komunis Pasca Kemerdekaan di Banten Tahun 1945-1946. [Skripsi]. Serang: Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin.

Handayani, Mila Sari. 2016. Peranan Md. Juhdi Ma’mur Dalam Organisasi Pembela Tanah Air (PIETA) di Banten Tahun 1943-1945. [Skripsi]. Serang: Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin.

 

 

 

 

Sumber Artikel Internet

Heliana, 2016, Pemuda, Kemerdekaan, dan Perubahan. https://mediaindonesia.com /read/detail/62108-pemuda-kemerdekaan-dan-perubahan. [diakses tanggal 04 Mei 2019].

Hendri F. Isnaeni. Historia id. 2018. Proklamasi Kemerdekaan Sampai di Banten. https://historia.id/politik /articles/ proklamasi-kemerdekaan-sampai-di-banten-Pdjxl, [diakses tanggal04 Mei 2019).

2 Replies to “ALI AMANGKU: PENJAGA BUMI JAWARA”

  1. Terimakasih untuk.pak ganda pembelajaran ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan saya dan teman teman walaupun kita belajar online

  2. Sip… Sama sama nak… Tetap semangat belajar.. semoga kondisi bangsa cepat mambaik sehingga kita bisa kembali tatap muka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *